Ibu
dan 3 Karung Beras
Ini
adalah makanan yang tidak bisa dibeli dengan uang. Kisah ini adalah kisah nyata
sebuah keluarga yang sangat miskin, yang memiliki seorang anak laki-laki.
Ayahnya sudah meninggal dunia, tinggalah ibu dan anak laki-lakinya untuk saling
menopang.
Ibunya
bersusah payah seorang membesarkan anaknya, saat itu kampung tersebut belum
memiliki listrik. Saat membaca buku, sang anak tersebut diterangi sinar lampu
minyak, sedangkan ibunya dengan penuh kasih menjahitkan baju untuk sang anak.
Saat
memasuki musim gugur, sang anak memasuki sekolah menengah atas. Tetapi justru
saat itulah ibunya menderita penyakit rematik yang parah sehingga tidak bisa
lagi bekerja di sawah.
Saat
itu setiap bulannya murid-murid diharuskan membawa tiga puluh kg beras untuk
dibawa kekantin sekolah. Sang anak mengerti bahwa ibuya tidak mungkin bisa
memberikan tiga puluh kg beras tersebut. Dan kemudian berkata kepada ibunya:
" Ma, saya mau berhenti sekolah dan membantu mama bekerja disawah".
Ibunya mengelus kepala anaknya dan berkata : "Kamu memiliki niat seperti
itu mama sudah senang sekali tetapi kamu harus tetap sekolah. Jangan khawatir,
kalau mama sudah melahirkan kamu, pasti bisa merawat dan menjaga kamu. Cepatlah
pergi daftarkan kesekolah nanti berasnya mama yang akan bawa kesana".
Karena
sang anak tetap bersikeras tidak mau mendaftarkan kesekolah, mamanya menampar
sang anak tersebut. Dan ini adalah pertama kalinya sang anak ini dipukul oleh
mamanya. Sang anak akhirnya pergi juga kesekolah. Sang ibunya terus berpikir
dan merenung dalam hati sambil melihat bayangan anaknya yang pergi menjauh. Tak
berapa lama, dengan terpincang-pincang dan nafas tergesa-gesa Ibunya datang
kekantin sekolah dan menurunkan sekantong beras dari bahunya.
Pengawas
yang bertanggung jawab menimbang beras dan membuka kantongnya dan mengambil
segenggam beras lalu menimbangnya dan berkata : " Kalian para wali murid
selalu suka mengambil keuntungan kecil, kalian lihat, disini isinya campuran
beras dan gabah. Jadi kalian kira kantin saya ini tempat penampungan beras
campuran".
Sang
ibu ini pun malu dan berkali-kali meminta maaf kepada ibu pengawas tersebut.
Awal
Bulan berikutnya ibu memikul sekantong beras dan masuk kedalam kantin. Ibu
pengawas seperti biasanya mengambil sekantong beras dari kantong tersebut dan
melihat. Masih dengan alis yang mengerut dan berkata: "Masih dengan beras
yang sama". Pengawas itupun berpikir, apakah kemarin itu dia belum
berpesan dengan Ibu ini dan kemudian berkata : "Tak perduli beras apapun
yang Ibu berikan kami akan terima tapi jenisnya harus dipisah jangan dicampur
bersama, kalau tidak maka beras yang dimasak tidak bisa matang sempurna.
Selanjutnya
kalau begini lagi, maka saya tidak bisa menerimanya".
Sang
ibu sedikit takut dan berkata : "Ibu pengawas, beras dirumah kami semuanya
seperti ini jadi bagaimana? Pengawas itu pun tidak mau tahu dan berkata :
"Ibu punya berapa hektar tanah sehingga bisa menanam bermacam- macam jenis
beras". Menerima pertanyaan seperti itu sang ibu tersebut akhirnya tidak
berani berkata apa-apa lagi.
Awal
bulan ketiga, sang ibu datang kembali kesekolah. Sang pengawas kembali marah
besar dengan kata-kata kasar dan berkata: "Kamu sebagai mama kenapa begitu
keras kepala, kenapa masih tetap membawa beras yang sama. Bawa pulang saja
berasmu itu !".
Dengan
berlinang air mata sang ibu pun berlutut di depan pengawas tersebut dan
berkata: "Maafkan saya bu, sebenarnya beras ini saya dapat dari
mengemis". Setelah mendengar kata sang ibu, pengawas itu kaget dan tidak
bisa berkata apa-apa lagi. Sang ibu tersebut akhirnya duduk diatas lantai,
menggulung celananya dan memperlihatkan kakinya yang sudah mengeras dan
membengkak. Sang ibu tersebut menghapus air mata dan berkata: "Saya menderita
rematik stadium terakhir, bahkan untuk berjalan pun susah, apalagi untuk
bercocok tanam. Anakku sangat mengerti kondisiku dan mau berhenti sekolah untuk
membantuku bekerja disawah. Tapi saya melarang dan menyuruhnya bersekolah lagi."
Selama
ini dia tidak memberi tahu sanak saudaranya yang ada dikampung sebelah.
Lebih-lebih takut melukai harga diri anaknya. Setiap hari pagi-pagi buta dengan
kantong kosong dan bantuan tongkat pergi kekampung sebelah untuk mengemis.
Sampai hari sudah gelap pelan-pelan kembali kekampung sendiri. Sampai pada awal
bulan semua beras yang terkumpul diserahkan ke sekolah.
Pada
saat sang ibu bercerita, secara tidak sadar air mata Pengawas itupun mulai
mengalir, kemudian mengangkat ibu tersebut dari lantai dan berkata: "Bu
sekarang saya akan melapor kepada kepala sekolah, supaya bisa diberikan
sumbangan untuk keluarga ibu." Sang ibu buru- buru menolak dan berkata:
"Jangan, kalau anakku tahu ibunya pergi mengemis untuk sekolah anaknya,
maka itu akan menghancurkan harga dirinya. Dan itu akan mengganggu sekolahnya.
Saya sangat terharu dengan kebaikan hati ibu pengawas, tetapi tolong ibu bisa
menjaga rahasia ini."
Akhirnya
masalah ini diketahui juga oleh kepala sekolah. Secara diam- diam kepala
sekolah membebaskan biaya sekolah dan biaya hidup anak tersebut selama tiga
tahun. Setelah Tiga tahun kemudian, sang anak tersebut lulus masuk ke perguruan
tinggi qing hua dengan nilai 627 point.
Dihari
perpisahan sekolah, kepala sekolah sengaja mengundang ibu dari anak ini duduk
diatas tempat duduk utama. Ibu ini merasa aneh, begitu banyak murid yang
mendapat nilai tinggi, tetapi mengapa hanya ibu ini yang diundang. Yang lebih
aneh lagi disana masih terdapat tiga kantong beras.
Pengawas
sekolah tersebut akhirnya maju kedepan dan menceritakan kisah sang ibu ini yang
mengemis beras demi anaknya bersekolah. Kepala sekolah pun menunjukkan tiga
kantong beras itu dengan penuh haru dan berkata : "Inilah sang ibu dalam
cerita tadi."
Dan
mempersilakan sang ibu tersebut yang sangat luar biasa untuk naik keatas mimbar.
Anak
dari sang ibu tersebut dengan ragu-ragu melihat kebelakang dan melihat gurunya
menuntun mamanya berjalan keatas mimbar. Sang ibu dan sang anakpun saling
bertatapan. Pandangan mama yang hangat dan lembut kepada anaknya. Akhirnya sang
anak pun memeluk dan merangkul erat mamanya dan berkata:
"Oh
Mamaku..................


